Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 35

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 35by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 35My HEROINE [by Arczre] – Part 35 BAB XV: KAZE no Ryuu #PoV Ryu# Aku, Hana dan Han Jeong pergi ke Taman Cendana. Taman ini bisa ditempuh dengan naik angkutan umum satu kali. Han Jeong bersiap-siap. Aku tahu mungkin ia sedikit grogi atau mungkin juga galau. Aku tak begitu faham perasaan perempuan untuk masalah yang […]

tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco4_500 tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco5_500 tumblr_nvzb6lfS0O1qa67nco6_500My HEROINE [by Arczre] – Part 35

BAB XV: KAZE no Ryuu

#PoV Ryu#

Aku, Hana dan Han Jeong pergi ke Taman Cendana. Taman ini bisa ditempuh dengan naik angkutan umum satu kali. Han Jeong bersiap-siap. Aku tahu mungkin ia sedikit grogi atau mungkin juga galau. Aku tak begitu faham perasaan perempuan untuk masalah yang seperti ini. Tapi dari sorot mata Han Jeong, tersirat dua hal, kerinduan dan kesedihan.

Kami bertiga sudah sampai di taman ini, tapi sesuatu terjadi. Perasaanku tidak enak. Begitu turun dari bis, aku langsung menghentikan langkahku.

“Kenapa Ryu-kun?” tanya Hana.

“Sesuatu datang! Segera temui Yuda, aku akan melihat keadaan,” jawabku.

Han Jeong melihat kanan kiri, “Sepertinya benar, aku juga merasakan hawa membunuh.”

“Kalian ini apaan sih? Cenayang?” gerutu Hana.

“Hana, ayo!” Han Jeong menarik Hana. Mereka segera berlari masuk ke dalam taman.

Aku mempersiapkan katanaku. Angin mulai berhembus kencang membawa sifat kegelapan yang menusuk hingga ke dalam tulang. Langit mulai mendung. Awan gelap bergulung-gulung seperti karpet yang digelar di atas lantai. Dedaunan terbang tertiup angin mengakibatkan suara riuh bersahut-sahutan, sambung-menyambung seiring geraknya dedaunan di taman ini.

Dan perasaanku pun benar, tidak bohong. Aku melihat beberapa gerombolan orang berbaju hitam masuk ke Taman Cendana. Mereka langsung berhadapan denganku.

“Assasins,” gumamku.

Aku lihat orang yang dulu ada di rumah sakit, dia memakai mantel tebal dan memakai kacamata minus. Orang ini didampingi dua ninja, Kazuki dan Ukio. Mau apa mereka di sini.

“Kebetulan sekali Samurai boy, kami tadi melihat dari layar CCTV sang Red Assasin ada di sini, tak tahunya bertemu dengan kamu lagi,” kata sang pemimpin.

Aku mencabut katana kayuku. Pedang masamune masih berada di punggungku. Aku akan memakainya kalau diperlukan. Sepertinya pertempuran tak bisa dielakkan lagi.

“Katakan kepadaku ada urusan apa kalian sampai kemari?” tanyaku.

“Tentu saja, menghabisi Red Assasin dan teman-temannya. Kalau kemarin aku tidak membawa kartuku, maka sekarang aku membawanya. Shinobi dan Kunoichi,” kata sang pemimpin.

“Oh, ayolah. Aku sudah mengalahkannya kemarin,” kataku.

Sang pemimpin menoleh ke arah Kazuki. Kazuki mengacungkan katananya, “Tapi kali ini jangan harap akan terulang lagi. Aku akan mengeluarkan semua kekuatanku.”

“Sebelum kita bertarung, aku ingin tahu siapa kamu! Pemimpin assasin kah?” tanyaku.

“Bisa dibilang begitu, aku bos dari The Continental, Bram,” jawabnya.

“Shouka, Kakatte koi! (bring it on)” kataku. Aku sudah bersiap bertempur, kuambil posisi kuda-kuda.

Semua orang-orang berbaju hitam menyerbu ke arahku. Tipikal keroyokan, jangan meremehkan aku!

“Kaze no Ryu wa Taifu o Fuku [?????????](Naga angin menghembuskan Typhoon)!”

Aku memutar tubuhku bersamaan dengan itu katanaku terayun searah aku berputar, musuh pun terkena sabetanku. Satu, dua, tiga, empat, lima, pada sabetan ke enam aku melompat dan kupakai kedua tanganku untuk menghantam salah satu dari kepala mereka.

PLETAK!

Tujuh orang tumbang. Masih banyak. Satu orang berlari sambil membawa goloknya, aku menedang dan menusukkan katanaku ke perutnya. Dia langsung tersungkur ke tanah. Beberapa orang langsung menerjangku lagi dengan senjata tajam mereka, tak hanya golok sih. Ada juga clurit, ada juga pisau. Macam-macam, aku tetap bisa meladeni mereka, hingga semuanya terkapar di atas tanah. Katana kayuku kebanyakan menghantam kepala dan dada mereka. Meninggalkan bekas lebam yang cukup dalam.

Aku masih bisa bertarung lagi. Jadi bagaimana?

“Siapa selanjutnya?” tanyaku.

Tiga orang. Bram, Kazuki dan Ukio.

“Cih, emang percuma aku membawa mereka semua, tak bisa diharapkan,” kata Bram. “Kazuki, Ukio, lawan dia!”

“Aku duluan, kita masih punya hutang yang belum terselesaikan kemarin,” kata Kazuki.

“Keroyokan juga tak masalah,” kataku.

“Sombong!” Kazuki langsung menyerangku dengan katananya. Ternyata dia mengeluarkan dua katana dari pinggangnya

“Paling tidak, kita sama-sama menggunakan dua pedang,” kataku. Kucabut katana Masamune.

Terjadilah perang pedang antara aku dan Kazuki. Benturan-benturan katana kami menimbulkan suara-suara yang memekakan telinga. Tangan kananku adalah katana kayu Zero dan tangan kiriku adalah katana Masamune. Pertempuran antara dua pedang ini benar-benar membuat suasana makin panas. Bram pun berinisiatif menyerangku. Dia menggunakan penanya dan mengendalikannya untuk menyerangku. Aku kini meladeni serangan dari dua orang.

Ketika aku sibuk menahan tebasan dari Kazuki, aku juga harus berkonsentrasi untuk menghalangi pena yang ujungnya runcing itu mencoba untuk menembus tubuhku. Aku memukul sekerasnya pena terbang itu dengan katana masamune hingga pena itu melesat ke arah Ukio. Ukio yang dari tadi diam saja kemudian menebas pena itu hingga terbela menjadi dua.

“Hei, kenapa kamu belah pena itu?” tanya Bram.

Ukio mengangkat bahunya.

“Kenapa kamu nggak ikut menyerang?” tanya Bram.

“Klan Hanagumo bukan klan yang menghadapi seorang ksatria dengan cara keroyokan,” jawab Ukio.

“Blah, persetan dengan prinsip kalian,” kata Bram.

Bram membuka mantelnya dan mengeluarkan beberapa pena lagi. Kali ini penanya lebih banyak. Dia setidaknya mengambil lima pena, kemudian pena yang berujung runcing itu dilemparkannya ke arahku. Ah, brengsek! Kembali aku keluarkan jurus Kaze no Ryu wa Taifu o Fuku. Aku berputar-putar dengan cepat menangkis seluruh pena-pena itu.

TRANG! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!

Kazuki bertahan ketika putaran katanaku mengenai katananya. Sungguh ini pertempuran yang tidak seimbang tapi aku lebih menyukai pertempuran seperti ini. Kazuki kembali menyerangku, aku kembali bertahan, Bram sekali lagi menggerakkan tangannya dan pena-penanya melayang lagi menyerangku. Sekali lagi kukeluarkan jurus Kaze no Ryu wa Taifu o Fuku. Namun kali ini putaranku tidak berhenti sekali pun telah menyerang seluruh pena-pena itu dan Kazuki makin terdesak mundur karena seranganku. Aku terus menyerang dengan berputar dan kuakhiri dengan hantaman yang paling keras, membuat lengan Kazuki terangkat. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, akhirnya dengan tebasan menyilang aku membuat dadanya terkena sabetanku.

Kazuki mundur ke belakang beberapa langkah.

“Kazuki!?” panggil Ukio.

“Daijofu,” katanya.

Aku berdiri mengacungkan katana Masamune ke arahnya. “Sudah cukupkah?”

“Konayaro!” Kazuki mengumpat. “Baiklah, bagaimana kalau kita kembali perang armor?”

“Bukan ide yang buruk,” kataku. Tanpa menunggu lama aku pun mengubah tubuhku menjadi Zero.

“Zero Changed!”

“Genji Armor!”

Kami berdua telah berubah sekarang menjadi dua orang dengan tubuh dibalut oleh armor. Aku dengan armor futuristik menggenggam dua katana, Kazuki dengan armor kuno Samurai Genji dengan dua tanduk dan sebuah katana besar di punggungnya saling berhadapan. Kazuki berlari ke arahku dan menerjangku. Dia melemparkan katananya ke arahku dan mengambil katana besarnya. Aku bisa menghindar dari lemparannya itu.

WUUUSSSHH!

Seperti yang telah lalu, ayunan katana besarnya membuat angin di sekelilingnya serasa mendorongku. Katana Masamune milikku bisa menangkisnya. TRANG!

“Kamu itu besar, tapi sungguh lambat!” kataku.

Aku melompat ke atas, dia terkejut karena aku melompat sangat tinggi kemudian turun dengan posisi hendak menebasnya dari atas. Kazuki mengayunkan katana besarnya ke udara.

TRANNGG!

Benturan kekuatan dahsyat kami membuat apa yang ada di sekitar kami terhempas, termasuk Ukio dan Bram. Mereka terdorong oleh kekuatan kami berdua. Aku menebaskan gantian katanaku kiri dan kanan. Kazuki menangkisnya dengan cepat. Aku pun bersalto ke belakang tubuhnya dan memutarkan tubuhku kemudian kembali Kaze no Ryu wa Taifu o Fuku kukeluarkan. Katana besar milik Kazuki dibuat bertahan atas seranganku yang berputar-putar dan bertubi-tubi ke arahnya. Kemudian aku melompat hingga bersalto ke belakang. Kakiku terseret beberapa meter.

“Hei Samurai, kenapa kamu tidak mengeluarkan lagi jurus andalanmu kemarin?” tanya Kazuki.

“Kamu jangan meminta, kamu tak akan kuat menahannya,” kataku.

“Ayo kita coba,” kata Kazuki.

“Baiklah, kamu yang meminta,” kataku.

Aku pun mengambil ancang-ancang. Katana zeroku, kuhadapkan matanya ke bawah. Semoga saja kekuatannya cukup besar untuk menumbangkan Kazuki dengan Genji Armornya. Aku sebenarnya belum menguasai sepenuhnya jurus Kaze no Ryuu Tsuki no Kiritoru. Aku pernah dengar kata-kata otou-san. Tebasan pertama seperti membelah angin. Aku sudah melihatnya. Aku sudah mengetahui seperti apa tebasan pertama. Tebasan kedua seperti membelah dunia. Dan tebasan ketiga seperti membelah rembulan. Aku tak pernah tahu rahasia tebasan kedua dan ketiga.

Otou-san telah berkata, rahasia berhasilnya jurus ini adalah pada kekuatan tebasan. Sampai sekarang, aku tak pernah tahu maknanya.

“Bersiaplah!” kataku.

“Ayo lakukan!” katanya.

Aku mengumpulkan kekuatanku pada katanaku, kemudian kutebaskan dari atas ke bawah. Seketika itu tebasan itu menimbulkan dorongan energi yang besar menerjang apapun yang ada di depannya.

“Aku juga punya sesuatu anak muda,” kata Kazuki. “Rei Ken!”

Dia mengayunkan katana besarnya ke atas. Seketika itu benturan kekuatan besar meledak. Lagi-lagi getaran kekuatannya membuat apa yang ada di sekitar tempat itu terhempas. Hasilnya diluar dugaan Naga Angin Membelah Rembulan bisa dilawan! Aku cukup terkejut melihatnya.

“Hahahaha, kalau kekuatannya cuma segini aku bisa menahannya!” ujarnya.

Kalau kekuatannya cuma segini, aku tak bisa menembusnya. Kazuki kini menyerangku lagi.

WUUUSSSHHH! Kembali katananya menebasku. Aku bisa menghindarinya. Ia terlalu lamban tapi energinya kuat. Di saat aku lengah tiba-tiba ada yang menghantamku. CRATZZ! Sesuatu menancap punggungku. Brengsek! Penanya Bram menancap di punggungku. Menembus armorku!?

CRATZZ! CRATZZ! CRATZZ! CRATZZ! CRATZZ! CRATZZ! CRATZZ!

Secara beruntun sepuluh pena menancap di seluruh bagian tubuhku. Arghh..! Aku lengah. Pena itu tiba-tiba semuanya berputar seperti mencoba mengebor baju armorku. Brengsek! Aku mencoba mencabutnya satu persatu dan merusaknya. Namun ketika aku sibuk mencabut pena-pena tajam itu, tiba-tiba Kazuki menebaskan katana besarnya tepat ke tubuhku.

BUK! ZRRRAAASSHH!

Aku tertebas dan terhempas beberapa meter ke belakang. Seketika itu armorku tergores membujur dari atas ke bawah. Pena-pena milik Bram berhasil mencapai kulitku. Pena-pena itu terus mengebor dan aku pun mulai merasakannya, darah mulai keluar. Aku pun mencabut dan meremasnya satu per satu hingga lepas pena-pena itu dari tubuhku.

Bram membuka mantelnya dan mengeluarkan pena-penanya lagi. Oh, ayolah. Mau seberapa banyak pena-pena yang menjengkelkan itu terbang menyerangku?

Kembali aku diserang oleh Kazuki. “Rei Ken!”

Hembusan angin dan api menerjang ke arahku. Apa? Dengan api? Sepertinya ada yang aneh. Aku berkelit, berguling menjauh.

“Kamu baru sadar? Ya, kekuatanku adalah api. Itulah sebabnya katanaku bisa menebasmu, karena ujung katanaku ini suhunya bisa mencapai 5.000 derajat celcius,” jelas Kazuki. Pantas saja.

Otou-san, kenapa engkau tidak memberitahuku rahasia tebasan kedua dan ketiga? Aarrggh! Pertarungan ini membuatku frustasi. Aku pun menebas pena-pena terbang milik Bram. Ternyata pena itu makin cepat dari sebelumnya, apakah Bram menambahkan kecepatannya? Sepertinya begitu.

TRANG! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!

Kedua tanganku mengayun kiri kanan menangkis serangan pena-pena terbang. Ditambah lagi serangan beruntun dari Kazuki. Temeee! (mothafacka)

Aku menggerakkan katanaku makin cepat dari sebelumnya ketika serangan beruntun pena-pena itu makin banyak. Tunggu dulu! Makin cepat! Itu dia. Begitukah maksudnya, tebasan kedua dan ketiga, aku tahu sekarang. Maksudnya adalah tebasan yang tenaga dan kecepatannya makin besar dari yang pertama. Itu artinya aku harus menggandakan kekuatan tebasanku. Benar itu dia! Tapi kelemahan jurus ini adalah butuh waktu. Lari aja ah!

Aku pun berlari menghindar. Lebih tepatnya lari berputar-putar mengelilingi mereka bertiga. Kazuki menurunkan katananya dan mengangkat bahunya. Bram menatapku aneh.

“Hei, kamu kenapa?” tanya Bram.

“Ada masalah?” tanyaku.

“Kamu sudah putus asa?” tanya Kazuki.

Aku pun berhenti. Mengambil ancang-ancang Naga Angin Membelah Rembulan. Kazuki bersiap juga dengan Rei Ken miliknya. Bram pun mengarahkan pena-pena terbangnya menuju ke arahku.

“Kaze no Ryu Tsuki on Kiritoru!” Tebasan pertama.

Rei Ken dan Naga Angin Membelah Rembulan berbenturan. Tampak pena-pena milik Bram hancur semua terkena tebasan pertamaku. Belum selesai! Aku menganyunkan katana Masamuneku lebih cepat daripada tebasan pertama berikut juga energinya lebih besar daripada energi pertama. Kazuki terkejut, ia tak pernah menyangkanya. Aku bisa rasakan getaran energi yang menghempaskan mereka, menusuk dan menyayat mereka. Angin berpihak kepadaku.

Armor Genji yang dipakai oleh Kazuki pun terpotong-potong lagi. Kedua tanduknya pun patah Berikut juga helmnya. Bram ikut merasakan tebasanku ini. Angin menghembuskan pisau-pisau dan pedang-pedangnya ke arah mereka, merobek apapun yang mereka kenakan. Kazuki terbelalak dan pasti tentu saja terkejut.

Tebasan ketiga dengan kedua pedang aku menyilangkan tebasan terakhir ini dengan seluruh tenagaku, tentu saja dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya.

WUUUUSSSSHHHH!

Tiba-tiba, angin berhenti. Tak ada apa-apa? Kazuki dan Bram sedikit terkejut. Mereka tak merasakan apa-apa. Tubuh keduanya seperti keheranan, mematung. Pakaian mereka compang-camping, terutama Genji Armor yang dikenakan kazuki sekarang benar-benar hancur.

Ukio mencoba mendekat, tapi ketika mendekat tangannya terkena sayatan angin. ZRRATT!

“Ahh….apa yang terjadi?” tanyanya.

“Inilah Naga Angin Membelah Rembulan,” jawabku. “Jangan bergerak kalian berdua. Sedikit saja kalian bergerak, maka sang angin akan memotong-motong kalian.”

“Apaa maksud…,” Kazuki belum menyelesaikan kata-katanya tubuhnya langsung seperti disayat-sayat oleh katana. Darah mengucur, mengalir dari luka-lukanya, lalu kemudian secara bersamaan tubuhnya terpotong-potong menjadi berpuluh-puluh bagian.

“Sudah kubilang jangan bergerak,” kataku.

“Kazuki!” jerit Ukio.

“AAAARRGGGGHHHH!” aku mendengar suara itu. Apa itu? Aku menoleh ke tempat pertemuan Yuda dan Han Jeong. Apa yang terjadi di sana?

Author: 

Related Posts