Cerita Sex Barisan Loro Jiwo

Cerita Sex Barisan Loro Jiwoby masbroon.Cerita Sex Barisan Loro JiwoArimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 18 18. Barisan Loro Jiwo ~~~oOo~~~ “Aku udah pacaran tau ama Anita cuin… Keren kan akuh?” Cerita Bimo dengan bangga sambil memainkan sepasang alisnya naik turun. “What?!” Andri dan Revan sontak melongo saling berpandangan mendengar cerita Bimo itu. Ajaib dan susah di nalar dengan akal somplak. Setelah […]

multixnxx-Black hair, Asian, Gonzo, Tanned, High hee-9 multixnxx-Black hair, Asian, Gonzo, Tanned, High hee-11 multixnxx-Black hair, Asian, Interracial, High-res, -1Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 18

18.

Barisan Loro Jiwo

~~~oOo~~~
“Aku udah pacaran tau ama Anita cuin… Keren kan akuh?” Cerita Bimo dengan bangga sambil memainkan sepasang alisnya naik turun.

“What?!” Andri dan Revan sontak melongo saling berpandangan mendengar cerita Bimo itu. Ajaib dan susah di nalar dengan akal somplak. Setelah sebulan lebih galau level kelurahan, ternyata hanya butuh waktu tiga hari buat bisa move-on. Super sekali. “Sepertinya ini ngalamat ini.” Batin Andri.

“Serius ente bro?” Cecar Revan masih belum terima.

“Ya serius lah.” Sahut Bimo dengan raut serius meyakin-kan. “Masa iya ngaku ngaku sih? Malu atu ama wajah tampan plus motor keren akuh.” Lanjut-nya dengan gaya sombong khas Bimoisisasi-nya.

“Semprul!” Kompak Andri dan Revan langsung menoyor Bimo brutal. Walau geregetan, tapi dua bocah itu senang gaya kemaki Bimo telah kembali. Inilah Bimo yang sebenarnya dan seharusnya. Sombong kemaki dan naudzubille.

“Dih… Bukan-nya di kasih selamat, malah…”

“Bimo jadian ama Anita.” Tanpa di sadari, Arimbi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Seketika dada Arimbi kembali terasa sakit. Sendi sendi tubuh-nya langsung lemas tanpa daya. Hampir Arimbi luruh seandainya dia tidak bersandar di daun pintu.

Sekarang Arimbi tau kenapa kemarin dadanya tiba tiba sakit. Arimbi tau kenapa jantung-nya terasa terenggut paksa. Ternyata…

Tanpa sadar sepasang sudut mata Arimbi mulai berkaca kaca. “Bimo jadian ama Anita.” Perlahan Arimbi berlalu gontai meninggal-kan kelas Bimo. Sakit, kali ini sakit itu terasa benar benar nyata.

“Masa iya cuma tiga hari Bro? Ciyusan apa ah.” Lanjut Revan masih ngeyel belum percaya. Kalau cewek itu bukan Anita, mungkin Revan bakal langsung percaya. Cewek bodoh mana yang bisa nolak ketampanan dan tongkrongan keren Bimo. Tapi ini… Ini Anita gaes.

Anita beda dengan cewek kebanyakan di muka bumi ini. Sebut Anita itu ajaib. Di saat cewek cewek yang lain ngarep di pedekatein dan di tembak cowok paket komplit semodel Bimo, dia yang beruntung malah menjawab tembakan itu dengan tampolan. Ajaib kan?

“Emang masalah tampolan yang dulu itu udah kelar apa?” Timpal Andri.

“Ya kelar lah. Rugi dong aku terlahir tampan klo nggak bisa ngelarin soal begituan doang.” Sahut Bimo semakin besar kepala.

“Kemaki!” Sungut Revan kesal. Tapi apapun itu nyatanya Bimo berhak berbesar kepala sekarang. Bima sudah semakin sempurna. Wajah tampan tongkrongan super keren dan pacar yang juga super cantik. Perfecto!

“Yeeee… Ngiri dia rupanya.”

“Segampang itu?” Lanjut Andri di sambut anggukan imoet Bimo. “Cuma tiga hari?” Bimo kembali mengangguk. “Semprul!”

“Dih… Kok semprul.”

“Ya iyalah semprul.” Revan semakin semeremet kesal melihat gaya sombong Bimo.

“Haish…” Reflek Andri menahan tangan Revan yang akan menoyor kepala Bimo lagi. “Udah ih… Jangan di toyorin terus Van. Ntar isinya jadi kopyor loh.”

“Iya ni… Kakak Epan nakal ni…” Mendapat pembelaan dari Andri, Bimo jadi kumat lagi lebay-nya. Dengan centil Bimo menyandarkan kepalanya manja di bahu Andri. Maho mode : ON

Sebentar Andri mengusap lembut kepala Bimo yang bersandar manja di bahunya. Tapi kemudian… “Maksudnya jangan di toyor tanggung tangung.” tiba tiba Andri gantian menoyor dan membejek bejek kepala Bimo lebih sadis lagi dari Revan. “Hiaaaak…”

“Huaaaa…” Reflek Bimo meloncat menghindar. “Ih… Pada Afgan ih.”

“Ya lagian.” Sungut Andri dan Revan kompak. “Jadi bocah kok lebay-nya mit amit.” Lanjut Revan semakin semeremet dengan kutil satu itu.

Untung saja bocah lebay itu ganteng dan tongkrongan-nya super keren. Coba kalau tidak, Revan dan Andri pasti ogah deket deket apa lagi sahabatan dengan kunyuk yang bernama Bimo Putro Prakoso itu.

“Yaaaa… Namanya juga namanya. Harap maklum apa.”

“Maklum gunduolmu itu.”

Sementara itu di kantin sekolah, Aditya bingung dengan Arimbi yang tiba tiba terlihat murung. “Kamu kenapa Rim?” Tanya Aditya.

“Hm…” Arimbi sekilas melirik dan memasang senyum di paksakan.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa napa, cuma lagi pe em es aja kok.” Sahut Arimbi masih dengan senyum palsu-nya. Kembali dada Arimbi terasa sakit. “Seharusnya Bimo yang menanyakan itu. Seharusnya Bimo yang perhatian seperti ini. Seharusnya Bimo…” Batin Arimbi tanpa sadar.

Sebersit penyesalan membuncah di hati-nya. Penyesalan akan keputusan yang di rasa sudah benar. Mau secinta apa-pun, pada kenyataan-nya Arimbi memang tidak bisa bersama Bimo. Pahit memang, tapi itu kenyataan yang nyata dan tak bisa di rubah.

“Bimo udah jadian ama Anita.” Tapi bagaimana juga sakit tetaplah sakit. Perasaan itu jujur dan tidak bisa di bohongi. Ini memang sudah menjadi pilihan-nya, tapi mengetahui Bimo bersama orang lain, rasanya tetap saja sakit dan menyakitkan.

“Beneran?” Lanjut Anditya sambil menggenggam jemari Arimbi.

Sekilas Arimbi melirik Aditya dengan senyum di paksakan. Senyum mengambang hanya sekedar untuk menyembunyikan sakit di hati-nya. “Iyaaaa… Suer deh lagi pe em es.” Sahut Arimbi beralasan.

“Beneran?” Cecar Aditya lagi.

“Iyaaa…” Arimbi kembali memajang senyum palsu-nya. Senyum terpaksa di atas rasa hati-nya yang tak menentu. Rasa yang tak seharus-nya ada dan terasa. “Udah ah… Kamu mo pesan apa?”

“Tapi benaran gak kenapa napa?”

“Dih… Bawel.” Perlahan Arimbi melepas genggaman Aditya dan kemudian perlahan berdiri dari duduk-nya. “Mo pesen nggak?” Arimbi kembali menyunggingkan senyum manis-nya. Senyum yang terlihat nyata tapi sebenar-nya terpaksa. Senyum…. Loro Jiwo.

~~~oOo~~~
Semakin di ingkari, semakin itu juga Bimo menguasai. Tanpa sadar Arimbi semakin sering napak tilas jejak jejak Bimo. Album lama bersampul biru juga semakin sering Arimbi buka. “Hehe… Kamu dulu cengeng ya Rim?” Ujar Bu Hana tiba tiba.

Reflek Arimbi langsung menutup album itu dan kemudian melirik ke arah Ibu-nya. “Apaan sih Buk.”

“Kok di tutup.”

“Udah bosen lihat-nya.” Arimbi kemudian menyimpan album itu di tempat-nya semula.

“Eh Rim…” Bu Hana perlahan menarik kursi plastik dan duduk menghadap Arimbi. “Kamu lagi berantem sama Bimo?”

Arimbi sedikit mendelik menatap Ibu-nya itu. “Enggak.” Sahut-nya sambil menggeleng pelan.

“Klo nggak berantem kok Bimo nggak pernah main ke sini?” Sebentar Arimbi menghela nafas bingung harus menjawab apa. “Kalian mberantemin apa sih?” Lanjut Bu Hana.

“Enggak berantem Ibuuuuuk…” Sahut Arimbi mulai kesal dengan Ibu-nya yang mulai kepo.

“Beneran?”

“Iya.”

“Ya udah sih kalau nggak berantem.” Bu Hana perlahan beranjak berdiri. “Cuman kirain aja, tumben… Kan biasanya kalian kek upil ma ingus, nempel terus.” Lanjut beliau sambil berlalu keluar dari kamar Arimbi.

“Dih Ibuuuk… Analogi-nya ceyem amat sih.” Runtuk Arimbi kesal di analogikan Ibu-nya seperti upil dan ingus. Tapi tidak lama, tipis Arimbi mulai tersenyum

Upil ama Ingus. Sepertinya Bu Hana tidak salah. Dulu Arimbi dan Bimo mungkin memang seperti itu. Di mana ada Bimo di situ pasti ada Arimbi. Seperti di mana ada ingus di situ pasti ada upil. Kompak.

Sementara itu di rumah-nya, hampir satu jam Aditya hanya membolak balik buku pelajaran-nya tidak jelas. Perubahan Arimbi yang tadi siang tiba tiba murung membuat-nya sulit berkonsenterasi belajar. “Ada apa dengan Arimbi.” Batin Aditya terus.

Aditya merasa, hampir dua bulan mereka pacaran tapi mereka tetap terasa asing seperti orang lain. Arimbi seperti membangun tembok tebal yang menahan-nya untuk bisa masuk ke dalam hatinya. Arimbi seperti setengah hati. Arimbi belum benar benar bisa lepas dari Bimo.

“Apa aku harus mundur.” Tiba tiba terbersit fikiran itu. “Tapi tidak.” Terlalu percuma kalau mundur sekarang. Aditya sudah berjuang keras untuk bisa sampai di sini, berpacaran dengan Arimbi. Bahkan dia harus rela di hajar Revan dua kali untuk mendapatkan Arimbi. “Tidak bisa!”

“Mas Adieeeet!” Teriakan cempreng Kamita menyentak-kan Aditya dari lamunan-nya. “Di panggilin dari tadi juga.” Sungut Kamita sambil berkacak pinggang lucu di ambang pintu.

“Apa sih?!”

Perlahan Kamita menghampiri dan menggelendot manja di bahu Aditya. “Mbak Arim mana Mas?”

“Mbak Arim lagi sibuk.”

“Kok nggak pernah kesini lagi.”

“Bawel.” Dengan gemas Aditya mengacak acak poni adik-nya itu. “Di bilang Mbak Arim-nya lagi sibuk juga.”

“Ya sesibuk sibuk-nya masa nggak ke sini sih. Emang lagi sibuk apaan gitu?”

“Kok apaan loh.” Aditya kembali mengacak acak poni Kamita. “Ya sibuk belajar lah. Kan bulan depan ujian Mit. Gimana sih…”

“Ooooo…” Kamita mengangguk angguk imoet mengerti. “Tapi kenapa belajarnya nggak barengan aja Mas?”

“Nggak bisa konsen.”

“Hmmm…” Kamita merenges tersenyum. “Pasti nggak konsen-nya gara gara Mas Adit nakal ya?”

“Maksud loe…?”

“Udah ah…” Kamita kemudian berlari keluar dari kamar Aditya. “Pikir aja sendiri.” Lanjut-nya sebelum menutup pintu.

“Hehe…” Aditya tersenyum sinis. Dia tau dengan maksud Kamita, tapi sayang Kamita salah. Kenyataan-nya, pacaran hampir dua bulan mereka belum pernah ngapa ngapain. Jangankan ngapa ngapain, cium pipi aja malah belum pernah. Dapuk!

~~~oOo~~~
“Eh… Gosip-nya Andri ama Septi udah nikah loh.”

“Denger denger sih di nikahin paksa gitu, karena ke gep pas lagi begituan.”

“Iya ih… Nggak nyangka ya.”

Serapat apa-pun di tutupi, akhirnya rahasia itu terbongkar juga. Entah dari mana asal-nya, desas desus pernikahan Andri dan Septi tiba tiba merebak dan menjadi gosip hangat di penghujung akhir masa sekolah.

Di setiap sudut sekolahan di mana ada gerombolan rumpi, mereka pasti membicarakan desas desus itu. Berita itu bahkan sudah sampai ke sekolahan, dan mereka juga sudah mengirim surat panggilan untuk orang tua Andri dan Septi.

“Kamu yang sabar ya Bu.” Dengan lembut Wanda berusaha menenangkan sahabat-nya itu. Di saat seperti itu, dukungan sahabat dan orang orang terdekat sangat di butuhkan. Amigos for siempre.

“Makasih ya Nda.” Sahut Septi sambil menyeka air mata-nya. Istri Andri itu menangis bukan karena malu aib-nya terbongkar, tapi takut tidak bisa mengkuti ujian akhir yang tinggal sebulan lagi.

“Ni kunyuk kemana lagi?!” Seperti biasa, Revan selalu menyikapi segala sesuatu dengan emosi. Sambil terus menggerutu Revan bolak balik mendial nomor Bimo. Di saat seperti ini bisa bisanya Bimo malah menghilang, di telefon juga tidak di angkat. “Dancoek ane!” Umpatnya emosi.

“Udah lah Van.” Ujar Andri malah berbalik menenangkan Revan yang emosi. “Mungkin dia lagi sibuk pacaran.”

“Tapi kan…” Ini keterlaluan dan Revan benar benar tidak terima. Dulu saat bocah itu galau, mereka selalu ada buat Bimo. Tapi sekarang… Di saat Andri dan Septi butuh bantuan moral, kunyuk satu itu malah menghilang entah kemana.

“Udah deh Van…” Timpal Wanda sambil mendelik galak. “Marah marah juga percuma. Malah bikin ruwet aja tau nggak.”

Akhirnya hanya pendelikan Wanda yang mampu meluruhkan emosi Revan. Walau belum sepenuhnya luruh, tapi paling tidak Revan bisa diam dan tidak malah semakin memperibet suasana.

Sementara itu di rumah Anita, Bimo sedang tertawa ceria dengan pacar barunya itu. Senyum tak pernah lepas dari bibir-nya sambil terus memandangi wajah cantik Anita. Telebih pakaian Anita yang semi selebor membuat kepala atas bawah Bimo pusing.

Sabun sabun… Mana sabuuuuun…

“Dih… Ngapain senyam senyum? Udak kek orgil aja sih.” Ujar Anita sambil mendelik manis. Di perhatikan sambil senyam senyum seperti itu membuat Anita malu. Sepasang pipi-nya langsung blusing merona merah jambu.

“Nyenyumin kamu.”

“Udah deh nggak usah lebay napa sih.”

“Yeee… Kenaaapa?” Sahut Bimo sambil malah semakin tersenyum lebar. Terlalu sayang memang menahan senyum untuk pacar secantik seyahud dan seasoy Anita. Apalagi bodi-nya itu loh… Brrr… Seyeeeem.

“Udah ih.” Anita meraup wajah Bimo gemas. “Di bilang jangan senyam senyum juga. Tu buku tu senyumin, belajar yang rajin. Ntar kalau nggak lulus aja, baru tau rasa.”

“Hehehe…” Bimo masih tetap setia dengan senyum perengesan lucu-nya. “Eh Nit… Malam minggu besok kencan yuk?” Ujar Bimo dengan mimik wajah di serius seriusin.

Otak kotor Bimo sudah membayangkan kencan di tempat remang remang. Sedikit grepe grepe, sukur sukur dapet secelup dua celup. “Huaaaaahahaha…” Tawa iblis mesum di otak Bimo.

“Keeencan?”

“Iya… Kencan.” Bimo menatap Anita tepat di manik mata-nya. “Mau nggak?”

“Ogiah!”

“Huanjriet!” Sepasang tanduk yang mulai tumbuh memanjang di belahan rambut Bimo langsung patah seketika. “Kok ogah sih?” Sahut Bimo memelas. Impian grepe grepe Anita sepertinya harus di tunda sampai batas waktu yang tidak di tentukan.

“Terus kamu mau apa?” Sahut Anita sambil mendelik menatap Bimo. Dari gayanya Anita tau Bimo sedang memikirkan yang bukan bukan. “Dasar mesum!” Batin Anita ngeri ngeri pengen.

“Yaaaaah… Kok gitu sih Nit. Kan biar kelihatan romantis gitu.”

“Romantis mbiah-mu itu.” Anita kembali meraup wajah Bimo semeremet. “Pikirin tu ujian bulan depan. Jangan mikirin romatis romantisa mulu. Ntar kalau nggak lulus aja…”

“Yaeeeelah…” Bimo mendengus lemas sambil meremasi rambut-nya. “Kencan aja nggak mau. Aku kan butuh tatih tayang Nit.”

“Dih… Kasih saaaayang? Alesan! Bilang aja pengen mesum.” Ujar Anita tepat.

“Hehehe…” Bimo kembali merenges sambil garuk garuk kepala. “Kok tau.”

“Ya tau lah… Kelihatan kok. Tapi sorry ya… Nggak ada!” Tegas Anita.

“Secelup dua celup gitu?”

“Gunduolmu!”

“Ah…” Bimo mendengus lemas. “Ya udah deh, aku minum racun aja deh klo gitu. Dari pada pozeng pala babi.”

“Ya udah sono.”

“Kok malah di suruh sih?”

“Aku sediain malah. Mo racun tikus apa obat nyamuk?”

“Ah… Kamu mah gitu.” Anita tersenyum melihat tampang Bimo yang tertekut lucu. “Seriusan apa Nit… Gitu banget sih. Nggak acik bingitz ih.” Lanjut Bimo kemudian.

“Nggak acik nggak acik! Mikir… Situ yang enak aku yang rugi.”

“Kok rugi?” Bimo mengerutkan alis bingung. “Kan sama sama enak Nit. Malah aku kok yang kehilangan.”

Anita mendelik bingung. “Situ kehilangan apa?”

“Protein tubuh.”

“Haiyah….Biasa juga di buang di kamar mandi.”

“Huanjriet!”

“Udah deh… Jujur aja napa sih?”

“Enak aja… Situ kira kira cowok apapun.”

“Udah ah…” Dengan gemas Anita kembali meraup wajah Bimo. Terlalu meladeni omongan mesum Bimo bisa bahaya. Otak kotor bocah itu sepertinya perlu di pel pakai bayclean biar putih dan bersih. “Belajar aja tu… Jangan mesum aja otak-nya.”

“Hadeeeewh…” Bimo mendengus pasrah. Anita lama lama bisa membuat Bimo Loro Jiwo. “Pacaran kok isinya cuma belajar belajar dan belajar. Klo begini caranya buat apa coba punya pacar? Cuma ngobrol doang sih sama nenek nenek peyot juga bisa.” Gerutu Bimo pelan.

“Yaudah sono… Pacaran aja sono ma nenek nenek peyot.”

“Huanjriet!”

~~~oOo~~~
“Hoeh semprul!” Baru datang Bimo langsung di hadiahi toyoran emosi Revan. Dari sorot matanya, kali ini Revan terlihat tidak sedang bercanda. “Minggat kemana kemarin?”

“Ke Rumah Anita.”

“Edan kamu ya?!” Bimo mendelik bingung. Bimo hafal, kalau raut wajah Revan seperti itu pasti ada sesuatu yang serius. Tapi apa? “Ente punya otak nggak sih coeg?!” Lanjut Revan emosi.

“Kamu itu kenapa to?”

“Kenapa ndias-mu itu!” Revan kembali menoyor kepala Bimo. “Andri ama Septi tu?”

“Tu bocah dua kenapa?” Bimo benar benar bingung ada apa sebenarnya.

“Ketahuan.” Sahut Revan ketus.

“Maksud-nya?” Masih dengan nada emosi, Revan akhirnya menceritakan apa yang terjadi. “Terus Andri ama Septi sekarang di mana?” Tanya Bimo dengan nada menyesal.

“Hari ini nggak masuk.”

Lagi lagi tanpa sengaja Arimbi menguping pembicaraan mereka. Entah kenapa akhir akhir ini langkah kakinya selalu membawa ke arah Bimo. Keyakinan-nya semakin lama semakin melemah dan kegamangan-nya semakin kuat membuncah. “Aku harus gimana?” Batin Arimbi sambil berlalu gontai.

oOo
Teeeeet…

Begitu bel bubaran sekolah berbunyi, Bimo langsung menyambar tas sekolahnya. “Tungguin di Septi.” Ujar Bimo sambil menyambar tas-nya dan kemudian berlari keluar kelas menuju parkiran.

“Ge pe el.” Sahut Revan sambil berlari menyusul Bimo.

“Wuoke.”

Whuuuuum…

Motor Bimo langsung menderu sangar dan meluncur edan edanan menuju sekolah Anita. Sementara itu di sekolahan-nya, Anita sudah setia menunggu di depan gerbang sekolahan seperti biasanya.

Sambil menunggu Bimo, kuping Anita sebenarnya panas. Bagaimana tidak, tepat di samping-nya segerombolan cewek cewek genit kecentilan sedang mempergunjingkan-nya. Mereka seperti sengaja dan berpura pura tidak ada Anita di situ.

“Dasar Anita matre. Dulu aja di tolak, sekarang giliran motornya keren langsung aja nempel. Dasar nggak tau malu.” Tapi sekali lagi Anita adalah cewek ajaib. Gunjingan miring itu dia telan mentah mentah. Anita tidak perduli karena mereka hanya segerombolan cewek kecentilan yang iri dan selamanya hanya cukup bisa bergunjing iri. Kasian.

Whuuuuum…

“Ayo naik.” Ujar Bimo begitu menghentikan motornya. “Tapi nggak langsung pulang ya?”

“Mo kemana dulu?” Sahut Anita sambil naik ke boncengan dan menempel erat memeluk Bimo. Dia sengaja memanas manisi segerombolan kutil yang sedari tadi terus menatap-nya iri itu. “Mupeng mupeng dah.” Batin Anita bersorak menang.

“Kerumah temenku.”

Whuuuuum…

Bimo langsung memacu motornya meluncur seperti peluru kesurupan. “Jangan ngebut ngebut ah… Takut.” Jerit Anita ketakutan sambil semakin mempererat pelukan-nya. Tapi Bimo seperti tidak perduli, dia malah semakin gila memacu motornya.

“Ayo turun.” Sesampainya di rumah Septi, selesai memarkirkan motornya di samping Mega-pro tua Revan, Bimo langsung mengajak Anita masuk.

“Bentar ih.” Sahut Anita sambil sedikit merapikan rambut panjangnya yang acak acakan kena angin. “Ini rumah siapa Bim?”

“Rumah Septi.” jawab Bimo sabil menggandeng Anita masuk. Dug dug dug dug… Jantung Bimo langsung berdegub kencang tak terkendali begitu memasuki rumah Septi. Di dalam… Di dalam ternyata ada Arimbi dengan Aditya.

Melihat dua bocah itu, luka yang hampir mengering langsung terkoyak lagi. Sakit hati yang sempat hampir sembuh terobati langsung kambung lagi.

Sama dengan Bimo, jatung Arimbi juga seketika berdegub liar tak terkendali. Terlebih lagi saat dia melihat Bimo menggandeng tangan Anita, sedetik jantung Arimbi malah sempat berhenti berdetak. Sisa jantungnya langsung terenggut tercabut habis.

“Duh Gusti wolo wolo kuato.” Batin Arimbi memohon kekuatan hati.

Hanya sebentar dan Bimo akhirnya bisa menguasai diri. Sakit itu berdarah lagi memang, tapi Bimo berusaha cerdik dan bersikap cerdas. “Eh udah rame.” Ujar Bimo sambil terus menggandeng lengan Anita. Secara tidak langsung Bimo seperti ingin menunjuk-kan, “ini loh… Aku udah bisa move-on.”

“Arimbi.” Anita melempar senyum sambil mengangguk ke arah Arimbi. Setelah setahun, Anita akhirnya bertemu lagi dengan Arimbi. Dia si kuman yang telah merusak segalanya. Tapi itu dulu, dan sekarang Anita tidak bakal membiarkan kuman itu merusak lagi untuk yang kedua kali-nya.

“Anita.” Arimbi membalas sapa senyum Anita dengan senyum terdahsyat-nya. Senyum maut yang memamerkan sepasang gigi kelincinya. Senyum yang terlihat nyata padahal remuk redam di dalam sana.

“Eh kenalin… Ini temen temen aku.” Bimo kemudian memperkenal-kan mereka satu persatu. “Ini Septi Andri Revan Wanda.” Sebentar Bimo tercekat saat akan memperkenalkan Aditya. Biar bagaimanapun, Aditya adalah oknum yang merenggut Arimbi dua bulan yang lalu. Ego-nya masih berat untuk memperkenal-kan Aditya sebagai teman. “Ini Aditya dan ini…”

“Hai Rim… Lama nggak ketemu.” Belum sempat Bimo memperkenalkan Arimbi, Anita sudah mendahului menyapa dan mengulurkan jabat tangan.

“Iya… Lama ya.” Sahut Arimbi sambil membalas uluran tangan Anita. Sebentar kedua gadis cantik itu terpaku diam. Di balik jabat tangan dan senyum manis, mereka sebenarnya saling berperang batin.

“Eh… Malah bengong.” Dengan cerdas Wanda menyela karena dia tau pasti apa yang sedang terjadi. Sekarang Arimbi pasti sedang remuk redam hatinya. Senyum itu pasti hanya sekedar casing semu. “Ayo duduk Nit.”

“Makasih.” Perlahan Anita melepas jabat tangan dengan Arimbi dan kemudian menyusul duduk di samping Bimo.

Sesaat suasana sempat hening. Rasanya terlalu kaku untuk bersikap biasa setelah apa yang terjadi. Andri Septi Revan dan Wanda juga bingung harus berbuat apa. Kejadian seperti ini tidak pernah mereka duga sebelum-nya.

Sementara Bimo Anita Aditya dan Arimbi, ke empat bocah itu sibuk bergulat dengan hatinya sendiri. Antara mencintai dan di ingkari. Antara sakit dan ingin memiliki. Antara takut kehilangan dan kenangan. Antara perjuangan dan masa lalu. Antara keyakinan dan gamang. Antara sederhana tapi di bikin rumit.

“Ketahuilah bahwa yakin itu datang di saat pergi dan pergi di saat datang. Sementara gamang akan selalu mengintai.”

~~~oOo~~~

Yen arep crito karo sopo

Yen ora crito kok tambah nelongso

Oh soyo suwe kok ngene rasane

Sedino-dino kok ngatoni wae

Yen ora sambat uwis ra kuwat

Arep njaluk tulung bingung lehku nembung

Tekan suk kapan biso mendem iki

Kasmaran kenyo tan kepati-pati

Tindak tanduke kalem radigawe

Larang eseme nggregetake

Yo ben mung ngimpi ora popo

Yen ati iki iso dadi lego

Deweke teko lan kondo yen tresno

Piya-piye aku pasrah lan lilo

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts