Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 9

Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 9by masbroon.Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 9Dark Secret II : Revenge – Part 9 Chap 3 Final Masquarade. Part 2 ~ ~ ~ * * * ~ ~ ~ “Asal bisa tidur aja mas, gak apa-apa kok,” kata Erlin sambil tersenyum ringan.”Eh, namanya siapa mas?” “Nama saya Rangga mbak,” kata lelaki itu sambil tersenyum. Sementara itu, sebuah SMS masuk kedalam handphone […]

tumblr_nkumw8PqsF1up9txto1_540 tumblr_nkxfrmz0Oa1up9txto1_540 tumblr_nky7ma4xyH1up9txto1_540Dark Secret II : Revenge – Part 9

Chap 3
Final Masquarade.
Part 2

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
“Asal bisa tidur aja mas, gak apa-apa kok,” kata Erlin sambil tersenyum ringan.”Eh, namanya siapa mas?”

“Nama saya Rangga mbak,” kata lelaki itu sambil tersenyum.

Sementara itu, sebuah SMS masuk kedalam handphone Rangga dan terlihat dia mengerutkan kening sambil tersenyum ketika membacanya.

Sekilas Erlin seperti pernah melihat wajah itu, tapi dia lupa kapan dan dimana.

Ehh, seperti…

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
“Mau sekarang saya antar ke kosan saya atau bagaimana mbak?” tanya Rangga sambil memperhatikan Erlin yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Oh..apa? Eh… besok aja deh mas…,” kata Erlin tergagap.

“Ouwh, kalau begitu sekarang kemana mbak?” tanya Rangga lagi.

“Antar ke Jalan Rambutan no 5 ya mas,” kata Erlin. Perlahan dia kembali memandang badan dan perawakan dari Rangga.

Mirip dia…, dan pandangan matanya itu juga… Tapi apa ini mungkin? Bukannya dia sudah…

Dengan seribu satu pikiran didalam kepalanya Erlin memandang keluar dari jendela taksi. Lampu kendaraan yang bagaikan hamparan kunang-kunang di rerumputan, melengkapi pemandangan malam.

“Mbak, sudah sampai…,” kata Rangga pelan kepada penumpangnya yang terlihat melamun.

“Mbak…,” ulang Rangga lagi.

“Eh…Eh…iya mas?” tanya Erlin yang terlihat tidak fokus.

“Sudah sampai mbak,” kata Rangga lagi sambil tersenyum.

“Sudah sampai? Eh…Ouwh ya…,” kata Erlin, tergagap malu dengan wajah yang bersemu merah. Dengan wajah yang menunduk dia melangkah keluar dari taksi dan mengambil uang sesuai dengan yang terlihat di argo.

“Terimakasih mbak,” kata Rangga sambil menekan pedal gas dan taksi birunyapun kembali melaju dengan pelan. Dipandanginya sosok Erlin sampai tidak kelihatan lagi.

Erlina, kamu tidak banyak berubah…,

Pikir Rangga sambil menuju ke kosnya. Teringat akan isi SMS dari salah satu penghuni kosnya, dia tersenyum dan mengemudi dengan santai membelah padatnya jalanan.

Tidak lama kemudian dia sampai dikosnya dan menaruh taksi di disamping warung Paijo, dia melangkah menuju ke dalam kos-kosannya. Sebuah kos yang terdiri dari 3 lantai dan 6 kamar dimasing-masing lantai. Baru lantai 1 saja yang selesai dibangun, lantai dua baru selesai tembok nya saja sedangkan lantai 3 masih berantakan dan dijadikan tempat menjemur pakaian bagi anak-anak kos.

Lantai satu berisi 6 kamar yang masih menyisakan satu kamar kosong dipojok selatan. Kamar Rangga di pojok utara, bersebelahan dengan kamar seorang wanita yang bekerja di rumah sakit. Disebelah wanita itu ada dua orang wanita yang bekerja sebagai pramugari dan reporter. Sedangkan dua kamar lainnya berisi dua pasang suami istri yang jarang dia lihat.

Sesampainya didepan pintu kamarnya Rangga berhenti dan berpikir sejenak sebelum akhirnya dia melihat handphonenya dan menggelengkan kepalanya ketika membaca sms dari Karin, rekan kosnya.

Mas, nanti tolongin Putri ya, dia tak ‘iket’ di kamar.hihihi…Jangan sampe lupa ya

Masih sambil membaca sms di handphonenya dia menuju kedepan kamar Putri dan mengetuk pintunya.

Tok…tok…tok…

“Putri??” Panggil Rangga.

“Siapa?” Terdengar sahutan dari dalam, terdengar nadanya pelan, ragu dan takut.

Takut???

“Rangga…, eh aku dapet sms dari Karin, tapi rasanya aneh…,” kata Rangga. “Kamu baik-baik saja kan? Kalau begitu aku pergi dulu ya..,” kata Rangga lagi, paling ulah jail dari Karin saja. Pikir Rangga sambil hendak melangkah.

“Tunggu!” terdengar suara Putri, kali ni nadanya terdengar panik.

“Iya Put?” tanya Rangga bingung.

“Eh, masuk mas, Karin jahil, aku diiket…,” terdengar nada memelas dari Putri.

“Aku masuk ya…,” kata Rangga sambil membuka pintu dan sejenak dia tertegun melihat pemandangan didepannya.

Putri, dengan kedua tangan terentang dengan masing-masing terikat sebuah borgol didipannya, berbaring telentang diranjang. Tubuhnya tertutupi selimut tebal. Tampak sebuah kertas yang berisi tulisan di sebelahnya dan didekatnya, Rangga menelan ludah, sebuah bra dan celana dalam putih tersampir. Terlihat sedikit bercak dicelana dalam tersebut.

Jangan-jangan dia…,

Dan pikiran itupun semakin diperkuat dengan ekpresi ketakutan dari Putri. Sekilas Rangga membaca tulisan yang ada dikertas disebelah Putri.

“Tenang, kunci ada di ‘bawah’, nanti mas Rangga yang bakalan ambilin :P”

Dibawah itu jangan-jangan…

“Mas, ambilin kuncinya…,” kata Putri dengan wajah merah padam dan menunduk, menghindari kontak mata dengan Rangga. Antara rasa malu dan keiinginan utnuk pipis mengabur dalam kepalanya.

“Dimana Put?” tanya Rangga, walupun dia sudah punya bayangan dimana tempat yang dimaksud.

“Disana mas,” kata Putri sambil matanya melirik kebawah, kearah perutnya. Setelah melirik kebawah, terlihat dia menoleh kesamping dengan wajah yang merah padam.

“Maaf ya put,” kata Rangga sambil perlahan menuju kearah Putri dan dengan tatapan mengarah ke muka Putri yang merah padam perlahan tangannya menyusup kebawah selimut dan mereka terkesiap.

Rangga terkesiap merasakan lembut kulit perut Putri yang seperti dugaannya tidak tertutup pakaian.

Putri terkesiap merasakan tangan Rangga yang menyentuh kulit telanjangnya. Tangan yang sedikit kasar dan terasa panas dibawah sana, apalagi ketika tangan itu meraba-raba dibawah sana, berusaha mencari kunci borgolnya.

“Bukan disana mas, dibawahnya lagi…,” kata Putri sambil menggigit bibir bawahnya. Pandangan matanya mengawasi Rangga dengan tajam. Jari Rangga yang masih berada di atas perutnya mengirimkan sinyal-sinyal geli yang mau tak mau membuat selangkangannya sedikit membasah, selangkangan yang ada…

“Eh, disana?” tanya Rangga, tak sadar menelan ludahnya lagi. Jemarinya masih bisa merasakan kehangatan perut dan kelembutan kulit dibawah sana.

“Iya mas, awas jangan macam-macam mas!” kata Putri berusaha setegas mungkin, walaupun itu semua rasanya sulit.

Sambil menatap mata Putri yang memandangnya dengan tajam, dan terangsang.

Terangsang???

Perlahan tangan Rangga merayap kebawah, tangan itu berhenti ketika merasakan rambut kemaluan yang halus dan lebat dibawah sana. Perlahan kebawah lagi sampai menyentuh sesuatu yang kecil dan menonjol dan mengeras dibawah sana.

Rangga menelan ludahnya lagi.

Putri dengan nafas yang mulai berat dan memburu.

“Dibawahnya lagi mas,” kata Putri sambil berusaha berkata senormal mungkin dan tidak mendesah ketika Rangga dengan tepatnya meraba klitorisnya!. Antara nafsu dan perasaan ingin pipis membuatnya tak bisa berpikir lagi.

Dilain pihak , jemari Rangga seolah enggan beranjak dari tonjolan itu dan ketika akhitnya jemarinya turun kebawah dia bisa merasakan kalau dibawah sana sudah basah!

Tangannya akhirnya menyentuh dinginnya logam pipih dibawah sana, namun ketika dia berusaha untuk menariknya, seperti terjepit sesuatu. Sambil mengernyit heran kearah Putri yang wajahnya semakin merah padam, Rangga menarik kunci borgol yang terjepit sesuatu dibawah sana.

“Eehhmmm….,” desah pelan terdengar dari mulut tipis Putri ketika kunci itu terlepas. Ketika mereka memandang kunci itu, bisa terlihat kunci yang berkilat dengan gantungan yang berbetuk bola sebesar kelereng yang juga terlihat basah dan samar tercium aroma kewanitaan dari sana.

“Mas, cepetin buka…,” kata Putri merasakan desakan untuk pipis yang semakin kuat.

Dengan pelan Rangga menuju kebagian atas ranjang dan membuka borgol-borgol yang mengikat tangan Putri. Ketika dia lewat disebelah kepala Putri, Putri bisa melihat tonjolan di celana Rangga!

Klik…

Borgol kedua terbuka dan dengan terburu-buru Putri berdiri dan berlari kekamar mandi dengan selimut menutupi bagian depan tubuhnya.

Dibelakangnya Rangga hanya bisa ternganga melihat tubuh bagian belakang Putri yang tidak tertutup ketika si empunya berlari didepannya. Pantat yang bergoyang dengan gemulainya itu …

Sebuah pikiran lain melintas di kepala Rangga.

Darimana Karin dapat borgol-borgol itu dan buat apa???

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Vian yang tak banyak bicara malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya, mengikuti kepergian Sachi. Zoul membukakan pintu ruangan dan menutupnya ketika Vian sudah berjalan cukup jauh.

“Zoul, jaga didepan, jangan ganggu kami sampai kupanggil,” kata Roy sambil tersenyum kearah Ratih. Sambil mengangguk, Zoul menuju kebalik pintu dan menutupnya dibelakang punggungnya.

Pandangan Roy berubah menjadi lapar ketika memandang Ratih yang terlihat begitu menggoda malam ini.

“Kenapa mas?” tanya Ratih sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya yang merah menjulur.

“Mungkin ini saatnya makanan penutup?” kata Roy sambil berdiri lalu menghampiri Ratih yang masih duduk dengan mata yang menggoda. Ditariknya Ratih menuju pagar pembatas restoran dengan serambi. Dengan pantatnya bersandar di pagar, Tangan Roy menyibakkan gaun yang dikenakan Ratih dan terhamparlah vaginanya yang terlihat gemuk dan celahnya masih sempit dan basah.

“Hmmmm….., sudah basah sayang?” tanya Roy sambil berlutut dan lidahnya terjulur membelah celah sempit dan basah milik istrinya.

“Ahhhh…terus mas….,” desah Ratih merasakan nikmatnya jilatan suaminya dibawah sana.

Tangannya tak sadar meremas rambut suaminya dan menekan kepala suaminya semakin dekat kearah vaginanya yang terus mengeluarkan cairan pelumas.

“Aaahhhh….Mas… cepetin…,” pinta Ratih merasakan rasa geli dan gatal di vaginanya yang sedari sore sudah terangsang.

“Iyaahhhh…disitu mas…. disitu…kerasin mas…,” desahan kenikmatan semakin keras terdengar seiring dengan aroma khas betina yang yang semakin menguar diudara. Apalagi ketika lidah yang kasar itu menyentil-nyentil daging kecil yang terletak disebelah atas itu. Teriakan dan desahan Ratih semakin menjadi. Tanpa sadar tangan Ratih menelusup kebalik gaun yang dikenakannya dan meremas payudaranya yang dihiasi puting yang mengeras.

“Mas…., masukin please….” pinta Ratih sambil merintih lirih, merasakan rasa gatal yang mulai menjalar di vaginanya yang minta disumpal dengan batang hangat dan keras.

“As you wish my lady…,” kata Roy sambil berdiri dan membalik tubuh Ratih hingga pantatnya yang putih dan sekal menghadap kearah Roy yang mengeluarkan penisnya dari resleting celana panjangnya.

Plaakkkkk…plaakkkkk….

“Aaaaauuwwwww…. Massssss….. sakittt!” Rintih kesakitan terdengar dari mulut Ratih ketika dua buah tamparan mendarat di pantatnya dan dengan menggigit bibirnya dia menoleh kepada suaminya, kearah penisnya yang terlihat mengeras kaku keluar dari resletingnya.

Sambil meraba payudara istrinya yang menggantung dengan indah, Roy mengarahkan penisnya ke celah vagina yang sudah basah kuyup oleh ludah dan cairan vagina itu dan…

Jleeebbbbb…!

“Masssss……!”

Jeritan ringan Ratih ketika dengan sekali hentakan penis yang kaku itu melesak kedalam vaginanya. Sebelum sempat menyesuaikan diri dengan ukuran penis suaminya, penis itu keluar masuk dengan cepat di dalam vaginanya, menggaruk rasa gatal di relung-relung tersempit yang ada.

“Ahh… Aku mau keluar..!” dengus nafas Roy sudah mulai terdengar menderu ketika sekitar sepuluh menit dia memompa vagina sempit istrinya.

“Tunggu bentar mas…Aku dikit lagi!” kata Ratih ketika merasakan rasa gatal itu semakin mengumpul menjadi satu dibawah sana. Dengan tangan yang sekarang bertumpu pada pagar, Ratih menggoyangkan pantatnya dnegan liar, kekiri dan kekanan, atas dan bawah. Vaginanya bergerak liar menjemput penis suaminya yang mulai terasa membesar.

“Sayang…Aku dapet!”

“Aku juga mas!”

Teriakan mereka terdengar bersahutan yang diikuti dengan semprotan-semprotan sperma Roy didalam vagina Ratih. Keduanya berkeringat namun sama-sama merasa nikmat.

Roy mencabut penisnya keluar dan membersihkannya dengan tissu sebelum terduduk disalah satu kursi sambil memandang Ratih dengan paha yang masih bergetar ringan. Lelehan sperma dan cairan cintanya mengalir di pahanya sampai beberapa menetes dilantai.

“Sayang, aku ada meeting lagi sekarang, aku pergi dulu ya…,” kata Roy setelah selesai merapikan diri. Menyisakan istrinya yang memandanginya dengan senyum puas.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Lelaki berpakaian hitam itu memandangi kepergian seorang lelaki yang meninggalkan seorang wanita sendirian bersandar di pagar sebuah restoran dari teropong yang digunakannya. Dia mengambil handphone dan mencatat waktu kedatangan serta kepulangan dari si lalaki yang sekarang baru saja meninggalkan ruang restoran.

Disebelah silelaki berpakaian hitam, sebuah senjata laras panjang terpasang dengan anggunnya, seolah menantikan seseorang menekan pelatuknya. Lelaki berpakaian hitam kemudian melihat dari balik senjata itu dan sambil tersenyum si lelaki berpakaian hitam mengirim sebuah sms dari handphonenya.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
“Neng Puspa, sudah selesai bersih-bersih dimana saja?” tanya seorang security kepada Puspa yang bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit itu.

“Cuma di wing barat saja yang belum mas,” senyum Puspa sambil berjalan melalui si security yang hanya bisa memandang kemontokan tubuhnya dari belakang.

“Sayang banget…, ” gumam si security pelan.

“Sayang apa mas?” celetuk seorang suster yang mendengar perkataan si security.

“Eh kamu ngagetin saja, tuh, Neng Puspa, sayang banget cuma jadi cleaning service, udah cantik, orangnya baik dan ramah banget lagi,” kata si security.

“Iya sih, cuma katanya dia lulusan SMP saja, makanya cuma bisa jadi cleaning service,” jawab si suster. “Nah lo, mas naksir ya??? Hayo ngaku….” goda si suster kepada si security yang pura-pura diam tak mendengar perkataan si suster.

Sementara itu orang yang mereka bicarakan sudah jauh didepan. Dengan peralatan mengepel yang dibawanya, dia menuju kekamar yang berada di wing barat rumah sakit. Kamar demi kamar dibersihkannya dengan teliti. Sapaan dan godaan dari penjaga pasien sudah biasa diterimanya. Langkahnya sekarang terhenti di kamar no 303. Kamar seorang wanita yang terbaring koma sejak 3 tahun yang lalu.

Di papan nama tertera nama “Lidya”, seorang wanita yang cantik dan terlihat tertidur dengan tenang. Dengan teliti dibersihkannya setiap sudut kamar, matanya yang teliti bisa melihat sebuah kamera tersembunyi di langit-langit kamar dan sabuah lagi di vas dekat jendela.

Mereka masih mengawasinya…

Pikir Puspa sambil melanjutkan mengepel kamar itu, yang sekarang kosong, biasanya pasien itu hanya dijenguk oleh seorang gadis di pertengahn 30an dan ibunya.

Sambil membawa peralatan mengepelnya, Puspa melangkah ke pintu dan disana dia kembali menoleh kedalam.

Cepat sadar kakak…

Author: 

Related Posts